Beban terberat ada di jenjang atas. Pada usia SMP angkanya 996 anak; pada usia SD nyaris nol, karena hampir semua pulau berpenghuni sudah punya SD.
Agar tak ada anak yang harus menyeberang laut demi sekolah.
Kami memetakan kebutuhan pendidikan hingga level pulau, lalu merekomendasikan intervensi termurah yang layak — dari kelas rangkap Rp 75 juta sampai sekolah baru Rp 8,9 miliar — supaya setiap anak bisa belajar tanpa harus keluar pulau.
Jarak laut mengubah semua perhitungan pendidikan.
Rasio guru–murid dan APK yang sehat di level kabupaten bisa menyembunyikan kenyataan pahit di level pulau: ada anak yang harus naik pompong dua jam sekali jalan hanya untuk masuk kelas.
Angka rata-rata tak pernah bertanya siapa yang tinggal di ujung.
Hanya pulau yang penugasan sekolahnya dapat dipercaya yang dihitung. Sisanya belum diketahui keadaannya — dan tidak tahu bukan berarti tidak ada.
Aksesnya bergantung pada satu trayek saja. Bila trayek itu berhenti, pulau tersebut terputus — dari 38 trayek yang melayani 72 pelabuhan.
Dari data mentah ke keputusan yang bisa dipertanggungjawabkan.
Tiga langkah deterministik. Setiap angka bisa ditelusuri sumbernya; setiap rekomendasi datang dengan alasannya.
Petakan setiap pulau
1.934 sekolah ditempelkan ke pulaunya lewat poligon OpenStreetMap, bukan ditebak dari nama kecamatan. Unit analisisnya pulau — hanya di situ pertanyaan "apakah anak harus keluar" bisa dijawab.
Proyeksikan kebutuhan
Metode kohort: anak umur enam tahun ini adalah calon murid kelas 1 tahun ini. Kapasitas dihitung dari jumlah rombel nyata dikali daya tampung rujukan Permendikbud, lalu dibandingkan dengan jumlah anak per jenjang sampai 2030.
Rekomendasikan intervensi
Sistem memilih modalitas termurah yang layak — dari kelas rangkap sampai sekolah baru — lengkap dengan skor prioritas dan alasan yang bisa dibaca pejabat.
Buka dashboard,
mulai dari satu pulau contoh.